Foto Gusdur dan Said Aqil bersama guru para ulama Aswaja dunia, Sayyid Muhammad Al-maliki (di tengah).
“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah, tetapi Allah tidak menghendakinya, bahkan semakin menyempurnakan cahaya-Nya…”
Banyak dari umat islam unyu-unyu di Indonesia ini yang lebih menyukai
bungkus luar. Berhadapan dengan seseorang bergelar habib langsung
gemetar. Melihat orang berjubah, jenggotnya sampai dada, jidadnya hitam,
dianggap orang suci. Simbol-simbol yang diambil dari agama atau
kebudayaan lain, seperti jilbab, rosario, kubah, bulan sabit,
disakral-sakralkan.
Sementara ketika bertemu kyai toleran, pakai batik, sarungan dan
memakai peci ke mana-mana, dianggap liberal dan disesat-sesatkan. Karena
wajah mereka yang tidak ada arab-arabnya, logat mereka yang medok,
keluarga mereka yang sangat Indonesia, lantas dengan mudah fitnah
dihembuskan pada mereka.
Gusdur dimusuhi, keluarganya yang tidak berjilbab (hanya memakai
kerudung) dicaci, masih pula difitnah selingkuh. Tapi dengan santai
tuduhan itu dibiarkan. Nanti juga capek sendiri, kata Gusdur ringan.
Gusdur memang tidak mau ambil pusing.
Hanya karena Gusdur tidak memakai gelar habib dan tidak berjubah,
bukan berarti tidak islami. Siapa yang tidak kenal Mbah Hasyim Asy’ari?
Masih meragukan nasabnya yang sampai pada Sunan Giri dan menyambung pada
Rasulullah? Habib Jawa medok ini memang tidak menganggap penting gelar
seperti itu. Namun membela Rizieq dan merendahkan Gusdur hanya karena
nasab misalnya, adalah kekeliruan berpikir.
Setelah Gusdur tiada, pusaran fitnah yang sangat keras menerpa Kyai Said. Siapakah ulama yang dianggap syiah dan liberal ini?
Sebagaimana Gusdur, Kyai Said juga habib. Nasabnya menyambung pada
Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Tapi kenapa yang bersangkutan
tidak heboh ke mana-mana pamer nasab? Karena yang suka pamer itu
kelasnya anak kecil. Yang senang membangga-banggakan nama orang tua
biasanya karena mereka tidak mempunyai prestasi yang membanggakan.
Sejak kecil ia hidup dalam didikan pesantren. Kemudian membuat
pilihan mengejutkan dengan meneruskan studi ke Universitas Umm Al-qura,
Arab Saudi. Sarang dari kelompok penyamun bernama Wahabi. Tapi Said Aqil
berkeyakinan, para pengajar di sana rata-rata dari Mesir. Maka baginya,
di Saudi dan Mesir sama saja. Karena Saudi ketika itu (sampai sekarang)
memang masih terbelakang dalam hal pemikiran.
Tidak hanya sekadar studi sekilas-lalu, Said Aqil menamatkan S1, S2
dan S3nya di sana. Dengan ilmu yang sangat mumpuni, Gusdur menyebutnya
sebagai perpustakaan berjalan. Namun seperti ikan yang tak terpengaruh
asinnya air laut, dagingnya tetap manis. Begitulah Said Aqil, ia
dibesarkan oleh oleh lingkungan Wahabi, tapi tetap toleran, bahkan
sekarang justru paling getol melawan aliran keras itu di Indonesia.
Akibatnya, simpatisan Wahabi yang mendapatkan kucuran dana petrodolar
sangat membencinya. Ratusan situs, ribuan pembenci, memfitnahnya
siang-malam. Muslim unyu-unyu yang tak paham apa-apa ikut mencaci dan
menebarkan permusuhan. Serangan-serangan terhadap para kyai NU ini
sejatinya adalah upaya pembusukan dari dalam.
Mereka tidak mungkin melakukan itu secara terbuka dengan identitas
organisasi mereka. Karena itulah mereka menyaru, menyusup, dan
menyebarkan bibit fitnah dari dalam. Orang-orang NU dipisahkan dari
kyai-kyai mereka yang toleran. Saat mereka terhasut dan terpecah-belah,
para srigala berbulu domba ini akan mulai menerkam.
Karena NU adalah musuh terbesar mereka. Para ekstremis dan gerakan
intoleran memahami betul, selama ada NU, selama itu pula mereka tak bisa
bergerak leluasa. NU harus dihancurkan dari dalam. Mereka ingin
memadamkan “cahaya” itu. Namun Tuhan semakin menyempurnakannya.
Habib-habib medok itu seolah-seolah terhapuskan nasabnya karena
mereka membaur. Sebagian sengaja tak ingin diberi gelar demikian,
padahal sangat layak menerimanya, seperti Quraish Shihab. Sikap merasa
tak layak ini sejatinya muncul dari sifat rendah hati, bukan karena yang
bersangkutan tidak pantas.
Habib dan sayid dua hal berbeda yang sering dicampur-adukkan di
Indonesia. Padahal, ada juga yang dengan bangga mengobral gelar
tersebut, meskipun masih dipertanyakan kualitasnya. Mereka mungkin sayid
(keturunan Nabi), tapi belum tentu habib (sayid yang dicintai).
Salah satu fitnah yang kembali didaur-ulang adalah persoalan makelar
tanah seminari di Malang, juga di Batam. Dengan tanpa rasa sungkan lagi,
Kyai Said dituduh telah melakukan penipuan. Tidak saja melalui media
online, tapi juga cetak. Konon pemilik media ini salah satu kader partai
politik. Dengan tujuan merendahkan, Kyai Said disebut makelar.
Fitnah dasarnya dari kebencian. Sedangkan benci tidak memiliki agama.
Orang yang menyebarkan fitnah tidak perduli lagi dengan kaidah agama.
Bagi mereka, dosa itu sesuatu yang asing dan tak layak dihitung.
Kyai Said telah membantah fitnah tersebut, tapi banyak yang telah
termakan hasutan semacam itu. Dan mereka dengan bangga mengatas-namakan
diri sebagai bagian dari NU. Sebagai bagian dari organisasi yang
dipimpin oleh orang yang mereka caci. Lagipula orang-orang itu memang
tak perduli dengan kebenaran. Mereka lebih suka meributkan asap daripada
menyelidiki muasal apinya.
Said Aqil Siradj memang sosok yang serba mengejutkan. Semua itu
berawal dari kiprah Gusdur. Bahkan lebih jauh, sebenarnya berawal dari
maha guru mereka, Sayid Muhammad Al-Maliki. Jauh-jauh hari sang guru
berpesan kepada Gusdur agar kelak mengangkat Said muda sebagai katib NU.
Satu posisi yang biasanya diisi orang-orang tua, atau yang telah lama
mengabdi di NU. Banyak yang protes, tapi Gusdur dengan santai
membelanya. Said memang masih muda, tapi ilmunya sangat luas, soal
tasawuf misalnya, ia memiliki seribu referensi.
Cak Nur (Nurcholis Majid) mengatakan, bahwa Said Aqil ini pernah
ingin membuat buku yang isinya mengkritik pemikiran Algazali. Satu nama
yang dianggap keramat di Indonesia. Dengan senang hati Cak Nur
menanggapi hal itu. Untungnya buku itu tidak jadi diterbitkan. Bayangkan
bagaimana hujatan yang akan ia terima jika hal itu diwujudkan. Berapa
besar serangan yang akan ia tanggung. Bukan dari luar lagi, tapi dari
dalam barisan yang dipimpinnya sendiri.
Said Aqil dianggap liberal. Pikiran-pikirannya mengguncang kebiasaan
dalam tubuh NU. Konon di tahun 90-an ada trend Said-Aqilian menjangkiti
para Nahdliyin muda. Tentu saja hal itu juga menimbulkan reaksi keras.
Para pengkritik bahkan ingin agar gelar akademisnya dicabut. Tapi ia
menjawab enteng, jangankan gelar akademis, gelar haji jika diminta akan
ia berikan.
Said Aqil adalah fenomena mengejutkan. Seorang habib yang
menanggalkan gelarnya. Seorang intelek yang diam saja ketika dihina oleh
orang-orang dungu. Ia membiarkan dirinya dicaci dan difitnah hanya demi
satu hal, agar orang-orang berpikir kritis dan waras. Atas nama
toleransi beragama, ia membuat keputusan kontroversial, seperti
berceramah di gereja, bersikap rahmah pada non-muslim. Tidak mengejutkan
jika kemudian ia dicap syiah dan diliberalkan.
Maka benarlah Imam Syafii, “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah
fitnah menuju kepadanya, ikutlah mereka yang banyak difitnah, karena
sesungguhnya mereka sedang berjuang di jalan yang benar.”
sumber : https://seword.com/politik/kyai-said-dan-politik-pembusukan-nu/





