Jumat, 30 Desember 2016

Bacaan Guwe Banget


 Foto Gusdur dan Said Aqil bersama guru para ulama Aswaja dunia, Sayyid Muhammad Al-maliki (di tengah).

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah, tetapi Allah tidak menghendakinya, bahkan semakin menyempurnakan cahaya-Nya…”

   Banyak dari umat islam unyu-unyu di Indonesia ini yang lebih menyukai bungkus luar. Berhadapan dengan seseorang bergelar habib langsung gemetar. Melihat orang berjubah, jenggotnya sampai dada, jidadnya hitam, dianggap orang suci. Simbol-simbol yang diambil dari agama atau kebudayaan lain, seperti jilbab, rosario, kubah, bulan sabit, disakral-sakralkan.
Sementara ketika bertemu kyai toleran, pakai batik, sarungan dan memakai peci ke mana-mana, dianggap liberal dan disesat-sesatkan. Karena wajah mereka yang tidak ada arab-arabnya, logat mereka yang medok, keluarga mereka yang sangat Indonesia, lantas dengan mudah fitnah dihembuskan pada mereka.
Gusdur dimusuhi, keluarganya yang tidak berjilbab (hanya memakai kerudung) dicaci, masih pula difitnah selingkuh. Tapi dengan santai tuduhan itu dibiarkan. Nanti juga capek sendiri, kata Gusdur ringan. Gusdur memang tidak mau ambil pusing.
    Hanya karena Gusdur tidak memakai gelar habib dan tidak berjubah, bukan berarti tidak islami. Siapa yang tidak kenal Mbah Hasyim Asy’ari? Masih meragukan nasabnya yang sampai pada Sunan Giri dan menyambung pada Rasulullah? Habib Jawa medok ini memang tidak menganggap penting gelar seperti itu. Namun membela Rizieq dan merendahkan Gusdur hanya karena nasab misalnya, adalah kekeliruan berpikir.
Setelah Gusdur tiada, pusaran fitnah yang sangat keras menerpa Kyai Said. Siapakah ulama yang dianggap syiah dan liberal ini?
   Sebagaimana Gusdur, Kyai Said juga habib. Nasabnya menyambung pada Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Tapi kenapa yang bersangkutan tidak heboh ke mana-mana pamer nasab? Karena yang suka pamer itu kelasnya anak kecil. Yang senang membangga-banggakan nama orang tua biasanya karena mereka tidak mempunyai prestasi yang membanggakan.
Sejak kecil ia hidup dalam didikan pesantren. Kemudian membuat pilihan mengejutkan dengan meneruskan studi ke Universitas Umm Al-qura, Arab Saudi. Sarang dari kelompok penyamun bernama Wahabi. Tapi Said Aqil berkeyakinan, para pengajar di sana rata-rata dari Mesir. Maka baginya, di Saudi dan Mesir sama saja. Karena Saudi ketika itu (sampai sekarang) memang masih terbelakang dalam hal pemikiran.
   Tidak hanya sekadar studi sekilas-lalu, Said Aqil menamatkan S1, S2 dan S3nya di sana. Dengan ilmu yang sangat mumpuni, Gusdur menyebutnya sebagai perpustakaan berjalan. Namun seperti ikan yang tak terpengaruh asinnya air laut, dagingnya tetap manis. Begitulah Said Aqil, ia dibesarkan oleh oleh lingkungan Wahabi, tapi tetap toleran, bahkan sekarang justru paling getol melawan aliran keras itu di Indonesia.
Akibatnya, simpatisan Wahabi yang mendapatkan kucuran dana petrodolar sangat membencinya. Ratusan situs, ribuan pembenci, memfitnahnya siang-malam. Muslim unyu-unyu yang tak paham apa-apa ikut mencaci dan menebarkan permusuhan. Serangan-serangan terhadap para kyai NU ini sejatinya adalah upaya pembusukan dari dalam.
   Mereka tidak mungkin melakukan itu secara terbuka dengan identitas organisasi mereka. Karena itulah mereka menyaru, menyusup, dan menyebarkan bibit fitnah dari dalam. Orang-orang NU dipisahkan dari kyai-kyai mereka yang toleran. Saat mereka terhasut dan terpecah-belah, para srigala berbulu domba ini akan mulai menerkam.
Karena NU adalah musuh terbesar mereka. Para ekstremis dan gerakan intoleran memahami betul, selama ada NU, selama itu pula mereka tak bisa bergerak leluasa. NU harus dihancurkan dari dalam. Mereka ingin memadamkan “cahaya” itu. Namun Tuhan semakin menyempurnakannya.
Habib-habib medok itu seolah-seolah terhapuskan nasabnya karena mereka membaur. Sebagian sengaja tak ingin diberi gelar demikian, padahal sangat layak menerimanya, seperti Quraish Shihab. Sikap merasa tak layak ini sejatinya muncul dari sifat rendah hati, bukan karena yang bersangkutan tidak pantas.
   Habib dan sayid dua hal berbeda yang sering dicampur-adukkan di Indonesia. Padahal, ada juga yang dengan bangga mengobral gelar tersebut, meskipun masih dipertanyakan kualitasnya. Mereka mungkin sayid (keturunan Nabi), tapi belum tentu habib (sayid yang dicintai).
Salah satu fitnah yang kembali didaur-ulang adalah persoalan makelar tanah seminari di Malang, juga di Batam. Dengan tanpa rasa sungkan lagi, Kyai Said dituduh telah melakukan penipuan. Tidak saja melalui media online, tapi juga cetak. Konon pemilik media ini salah satu kader partai politik. Dengan tujuan merendahkan, Kyai Said disebut makelar.
Fitnah dasarnya dari kebencian. Sedangkan benci tidak memiliki agama. Orang yang menyebarkan fitnah tidak perduli lagi dengan kaidah agama. Bagi mereka, dosa itu sesuatu yang asing dan tak layak dihitung.
Kyai Said telah membantah fitnah tersebut, tapi banyak yang telah termakan hasutan semacam itu. Dan mereka dengan bangga mengatas-namakan diri sebagai bagian dari NU. Sebagai bagian dari organisasi yang dipimpin oleh orang yang mereka caci. Lagipula orang-orang itu memang tak perduli dengan kebenaran. Mereka lebih suka meributkan asap daripada menyelidiki muasal apinya.
   Said Aqil Siradj memang sosok yang serba mengejutkan. Semua itu berawal dari kiprah Gusdur. Bahkan lebih jauh, sebenarnya berawal dari maha guru mereka, Sayid Muhammad Al-Maliki. Jauh-jauh hari sang guru berpesan kepada Gusdur agar kelak mengangkat Said muda sebagai katib NU. Satu posisi yang biasanya diisi orang-orang tua, atau yang telah lama mengabdi di NU. Banyak yang protes, tapi Gusdur dengan santai membelanya. Said memang masih muda, tapi ilmunya sangat luas, soal tasawuf misalnya, ia memiliki seribu referensi.
   Cak Nur (Nurcholis Majid) mengatakan, bahwa Said Aqil ini pernah ingin membuat buku yang isinya mengkritik pemikiran Algazali. Satu nama yang dianggap keramat di Indonesia. Dengan senang hati Cak Nur menanggapi hal itu. Untungnya buku itu tidak jadi diterbitkan. Bayangkan bagaimana hujatan yang akan ia terima jika hal itu diwujudkan. Berapa besar serangan yang akan ia tanggung. Bukan dari luar lagi, tapi dari dalam barisan yang dipimpinnya sendiri.
Said Aqil dianggap liberal. Pikiran-pikirannya mengguncang kebiasaan dalam tubuh NU. Konon di tahun 90-an ada trend Said-Aqilian menjangkiti para Nahdliyin muda. Tentu saja hal itu juga menimbulkan reaksi keras. Para pengkritik bahkan ingin agar gelar akademisnya dicabut. Tapi ia menjawab enteng, jangankan gelar akademis, gelar haji jika diminta akan ia berikan.
   Said Aqil adalah fenomena mengejutkan. Seorang habib yang menanggalkan gelarnya. Seorang intelek yang diam saja ketika dihina oleh orang-orang dungu. Ia membiarkan dirinya dicaci dan difitnah hanya demi satu hal, agar orang-orang berpikir kritis dan waras. Atas nama toleransi beragama, ia membuat keputusan kontroversial, seperti berceramah di gereja, bersikap rahmah pada non-muslim. Tidak mengejutkan jika kemudian ia dicap syiah dan diliberalkan.
Maka benarlah Imam Syafii, “Carilah pemimpin yang banyak panah-panah fitnah menuju kepadanya, ikutlah mereka yang banyak difitnah, karena sesungguhnya mereka sedang berjuang di jalan yang benar.”


sumber : https://seword.com/politik/kyai-said-dan-politik-pembusukan-nu/

Rabu, 21 Desember 2016

Manusia, Budaya dan Monyet.

  Budaya telah terbentuk ribuan tahun lalu sejalan dengan perkembangan kehidupan dan kemampuan manusia. Budaya bahkan sudah ada sebelum adanya agama. Budaya merupakan hasil akal budi dan daya manusia. Budaya lahir secara alamiah dari kondisi alam dimana manusia tinggal, manusia pesisir mempunyai budaya sesuai dengan alam pesisir, begitu pula dengan mereka yg tinggal di pedalaman atau gunung. 

 Daerah beriklim panas budayanya juga berbeda dengan daerah beriklim dingin. Budaya yg dilakukan secara terus menerus dan turun temurun menjadi tradisi. Demikian juga dengan agama, ia tidak akan lepas dari budaya maupun tradisi karena hidup dalam sebuah lingkungan tertentu, ketupat, sarung, mudik, pohon natal, sinterklas, angpao dll adalah budaya dan tradisi. Ia bukan bagian dari agama itu sendiri, ia bukan sebuah ritual agama.

  Karena manusia yg di anugrahi Tuhan mempunyai pikiran/otak yg berbeda dgn binatang maka manusia berbudaya. Adakah manusia yg tidak berbudaya? Rasanya sulit menemukannya.... lalu bagaimana dengan segelintir orang yg anti atau bahkan ingin memberangus suatu budaya? Saya sulit menjawabnya karena setahu saya yg mirip mirip manusia tapi tidak berbudaya dan suka marah marah kalau kekurangan makanan kemudian menyerang kampung adalah MONYET.

Oleh : Lutfi Taufik

Jumat, 02 Desember 2016

Tim Sukses AHOK (Raja Juli Antoni)

Semenjak penampilan abang di layar Tv kompas malam tadi tanggal 02 desember 2016 sebagai tim sukses salah satu kandidat pilgub Jakarta Nomor urut 2 yakni Ahok saya melihat ada sosok intelektual dari seorang Raja Juli Antoni, berdebat secara santun dan berdasarkan nilai-nilai dan data-data yang akurat tepat karna saya juga salah satu pengagum Ahokers saya langsung mencari nama Raja Juli Antoni di internet dan teryata abang  Raja Juli Antoni adalah salah satau lulusan Uin Syarif Hidayatullah Jakarta yang saat ini saya sendiri juga sedang menempuh kuliah disana, selain itu dia ternyata anak kelahiran Riau, saya cukup senang membaca biodatanya di wikepedia karna saya juga kelahiran Riau ternyata anak-anak Riau bayak yang hebat dalam bidang politik dan intelektual tapi di Riau sendiri tidak maju  hahaha entahlah mungkin banyak para koruptornya 

Raja Juli Antoni, Ph.D (lahir di Pekanbaru, Riau, 13 Juli 1977; umur 39 tahun) adalah seorang intelektual dan politikus muda Indonesia.
Mantan Ketua Umum PP Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ini juga pernah dipercaya sebagai Direktur Eksekutif Maarif Institut, sebuah lembaga think tank yang didirikan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif.[1][2]
Ia sempat menjadi calon Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015-2020, namun kemudian mengundurkan diri karena ingin berkonsentrasi sebagai Sekretaris Jenderal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang baru didirikannya bersama beberapa politikus muda lainnya.[1][2][3][4]
Raja meraih gelar sarjana dari IAIN Syarif Hidayatullah (UIN Jakarta) pada tahun 2001 dengan riset berjudul Ayat-ayat Jihad: Studi Kritis terhadap Penafsiran Jihad sebagai Perang Suci.
Ia kemudian menempuh pendidikan master di The Department of Peace Studies, Universitas Bradford, Inggris, setelah mendapatkan beasiswa Chevening Award pada tahun 2004, dan menyelesaikannya dengan tesis master yang berjudul The Conflict in Aceh: Searching for A Peaceful Conflict Resolution Process.
Dengan beasiswa dari Australian Development Scholarhip (ADS) pada tahun 2010, Raja meneruskan studi doktoral di School of Political Science and International Studies pada Universitas Queensland, Australia. Ia berhasil mendapatkan gelar Ph.D dengan disertasi berjudul Religious Peacebuilders: The Role of Religion in Peacebuilding in Conflict Torn Society in Southeas Asia, dengan mengambil studi kasus Mindanao (Filipina Selatan) dan Maluku (Indonesia).

sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Raja_Juli_Antoni

Kamis, 01 Desember 2016

PERANG TERBUKA TITO KARNAVIAN..

   Satu tokoh yang saya kagumi dan terlihat bersinar saat demo-demo besar ini adalah Kapolri Tito Karnavian. Demo 411 kemaren adalah pembuktian keahlian beliau dan tim-nya. Dengan pengalaman memimpin Detasemen antiteror dan BNPT, pak Tito sangat paham pola dan karakter para perusuh. 411 kemaren sebenarnya situasi yang sangat genting, hanya tidak banyak yang menyadari. Beberapa hari sebelum demo, dikabarkan polisi sudah menyita banyak bom yang akan diledakkan. Ini saja sudah mematahkan mental para perusuh karena gerak mereka terbaca.

    Perusuh memainkan rencana B dengan strategi menyerang polisi. Satu orang memukul, dan ketika polisi bereaksi maka yang lainnya akan merangsek maju mengeroyoknya, kemudian senpinya akan direbut dan akan dimulai aksi tembak-tembakan yang membuat suasana kacau. Suasana kacau ini akan diperluas dengan menyerang istana dan senayan. Diharapkan rentetan peristiwa berikutnya akan memicu peristiwa 98 yang akan menjatuhkan Jokowi. Pak Tito sudah mengantisipasi hal itu dengan tidak mengizinkan anggotanya membawa senpi dan tidak bereaksi meski di provokasi. Disini perusuh kehilangan momentum, sebagian anggotanya ditangkap beberapa hari lalu.

    Menarik memang cara perang lunaknya Pak Tito. Mereka tidak bermain keras dan menghantam karena itu yang memang diinginkan perusuh. Ketika dihantam dan terjadi korban, perusuh bisa mendapat momen untuk menggerakkan massa yg lebih besar. Tito Karnavian seperti memainkan keseimbangan. Setiap tekanan yang datang kepada mereka tidak dihadang dgn beton keras, tetapi dialirkan dengan gaya air mengikuti alur. Tito memanfaatkan tenaga lawan untuk menekan mereka balik tanpa mereka sadar. Ia memecah barisan mereka, melakukan diplomasi sekaligus menggertak "jangan sampai makar". Karrena gertakan inilah, karakternya dibunuh di media online dan sosial. Ia "diadu" dengan Panglima TNI dan dibuat seolah2 mereka bertentangan dengan pak Tito sebagai Bad Guy-nya.

    Keberhasilan seorang Tito meredam demo itu sehingga terlihat damai bisa dibilang sebuah keajaiban, karena di beberapa negara seperti Libya, Suriah dan Mesir, situasi ini selalu berakhir dengan kerusuhan.
Jadi, sungguh menarik melihat bagaimana Pak Tito mengantisipasi situasi di demo besok. Kali ini sepertinya agak keras mainnya, karena menurut info, Polri menyebar 5 ribu pasukan di dalam pendemo dengan menyamar. Sniper ditempatkan di beberapa titik dan diijinkan tembak ditempat ketika melihat seseorang yg mencurigakan.

    Untuk yang ikut shalat Jumat di Monas besok, saya sarankan untuk segera pulang dan tidak perlu berdemo karena polisi tidak main2 sekarang. Peluru tidak mengenal siapa salah dan siapa benar. Jangan sampai terjebak di barisan salah karena itu fatal, meskipun anda merasa benar.
Selamat shalat Jumat besok, yang sudah jalan kaki begitu jauh segera istirahat, yang naik kuda supaya mirip Pangeran Diponegoro segera sadar cari panggung gak perlu terlalu berlebihan.. Kudanya belum ikut lebaran.

    Pertahankan demokrasi kita dan jagalah supaya aman, atau pulang saja daripada nanti dimanfaatkan teman di samping anda yang baru anda kenal dan anda menjadii korban... Hati2 copet, karena mereka juga bisa nyamar pake sorban. Dan khusus untuk Kapolri Jenderal Polisi Drs HM Tito Karnavian, terima-kasih, pak... Terima kasih juga kepada seluruh jajaran bapak. Kami menggantungkan semua keselamatan kami di tangan aparat.
Seruput dulu kopinya...

Setelah Ahok Tersangka


Thursday, 01 December 2016, 13:00 WIB
Setelah melalui polemik yang pelik, akhirnya Bareskrim Polri menetapkan Gubernur nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai tersangka dalam kasus penistaan agama. Ahok dijerat Pasal 156 A KUHP soal Pencemaran dan Penistaan Agama serta UU Informasi Transaksi Elektronik Pasal 28 ayat 2 Nomor11 Tahun 2008.

Seperti prediksi sebelumnya, keputusan menersangkakan Ahok menuai pro kontra. Sebagian kalangan menilai, keputusan ini hanya sedikit mengobati perasaan umat Islam yang sedang terluka. Hal ini karena bukan status tersangka yang diinginkan, melainkan agar Ahok ditangkap dan dipenjara. Tak mengherankan jika aliansi umat Islam yang   tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI akan menggelar unjuk rasa kembali pada 2 Desember.

Sementara, pihak lain menilai status tersangka adalah bentuk kriminalisasi terhadap Ahok karena putusan tersebut lahir akibat tekanan massa Islam. Tapi, Kapolri langsung membantah sembari menegaskan bahwa pihaknya telah bekerja profesional dan jauh dari intervensi politik.

Bak gayung bersambut, Jokowi dalam banyak kesempatan mengimbau semua pihak menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Mantan wali kotaSolo ini yakin, kepolisian sudah bekerja sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Dalam sebuah negara demokratis, sejatinya keputusan yang dihasilkan oleh institusi pemerintah dihormati. Beginilah cara demokrasi bekerja. Tentu, hal tersebut tak bisa memuaskan semua kalangan. Apa pun keputusan kepolisian soal Ahok, semua pihak harus menerima dengan lapang dada. Dalam studi budaya politik, Gabriel Almond dan Sidney Verba dalam The Civic Culture: Political Attitudes and Democracy in Five   Nations (1963) menyebut, sikap optimistis dan percaya pada institusi politik diyakini   mampu menghasilkan stabilitas demokrasi. Sebaliknya, seseorang yang tak percaya pada institusi politik cenderung teralienasi dan apatis, bahkan sinis.

Oleh karena itu, keputusan kepolisian, sebagai institusi resmi pemerintah yang  menetapkan Ahok sebagai tersangka mesti diterima sebagai keniscayaan berdemokrasi. Rasa tak puas mesti disalurkan dengan cara-cara demokratis pula. Sebab, tindakan anarkistis maupun makar merupakan sikap yang tak mencerminkan keajekan demokrasi.

Lalu, pertanyaannya kemudian adalah apa yang akan terjadi setelah Ahok ditetapkan sebagai tersangka? Apa dampak politik dan hukum setelah Ahok resmi menyandang predikat baru ini? 

Pertama,  Ahok akan menempuh jalur  hukum untuk  memulihkan  nama baiknya yang   sudah tercoreng. Mengajukan praperadilan, peninjauan kembali, banding, ataupun kasasi merupakan upaya yang mungkin saja dilakukan Ahok dan tim hukumnya.

Meski prosesnya akan lama, langkah hukum ini pastinya dilakukan oleh Ahok. Bukan hanya untuk kepentingan Pilkada DKI Jakarta, melainkan juga untuk tujuan jangka panjang, yakni memulihkan nama baiknya. 

Secara hukum, status tersangka memang tak berpengaruh apa pun terhadap pencalonan  Ahok di Pilkada Ibu Kota. Ahok masih bisa berkampanye hingga pencoblosan 15 Februari mendatang. Dalam UU Pilkada diatur, seorang kandidat dinyatakan gugur pencalonannya jika sudah ada keputusan tetap  (inkracht) dari pengadilan.

Meski begitu, status tersangka bukan perkara sepele. Ia akan menjadi beban elektoral buat Ahok. Apalagi, jauh-jauh hari Nasdem sudah berencana akan mengevaluasi  dukungan  jika Ahok jadi  tersangka. Begitupun  dengan  sejumlah petinggi Golkar yang   mendesak partai beringin ini mengevaluasi dukungan terhadap Ahok.

Kedua, secara elektoral, elektabilitas Ahok menurun signifikan. Hasil rilis sejumlah lembaga survei mutakhir menempatkan Ahok di posisi paling buncit, terpaut jauh   dibanding dua kandidat lainnya. Elektabilitas Ahok yang semula stabil di angka 24,6 persen, saat ini terjun bebas di angka 10,6 persen.

Tentu saja, temuan survei ini menjadi alarm bagi Ahok bahwa kasus yang membelitnya cukup bermasalah secara elektoral. Meski Ahok dianggap memiliki prestasi selama menjadi gubernur, warga DKI Jakarta sepertinya enggan memilih pemimpin penista agama.

Dalam banyak hal, kasus moral, seperti penistaan terhadap agama sama tercelanya dengan kasus korupsi dan tindakan asusila. Pada level tertentu penista agama dipandang cukup hina dan memalukan.

Playing victim
Status tersangka nyatanya tak membuat Ahok patah arang. Sepertinya, Ahok sudah siap dengan status terbarunya itu. Terbukti, sesaat seteleh ditetepkan sebagai tersangka, Ahok memprovokasi pendukungnya untuk menang satu putaran. Ahok menegaskan, status tersangka bukan hambatan tak menang dalam pertarungan di Pilkada DKI Jakarta.

Tak hanya itu, Ahok secara terbuka juga mulai menyerang simpul-simpul kekuatan politik yang dianggap biang keladi penetapan dirinya sebagai tersangka. Ahok menuding massa aksi yang melakukan demonstrasi 4 November lalu sebagai kelompok Islam garis keras yang mendapat bayaran sejumlah uang.

Ungkapan-ungkapan Ahok tersebut bisa dibaca sebagai upaya memainkan strategi playing victim, yaitu strategi yang mengesankan dirinya sebagai korban kepentingan mayoritas politik tertentu. Dengan kata lain, penetapan Ahok sebagai tersangka akibat desakan publik, bukan akibat profesionalisme kinerja kepolisian.

Untuk melawan stigma itu, Ahok akan membuktikan dirinya tak bersalah untuk membalikkan keadaan. Substansi playing victim, yakni memanipulasi pikiran khalayak dengan mengesankan dirinya sebagai korban. Cara ini dipandang cukup efektif karena publik tak ingin melihat seseorang menderita akibat penindasan.

Dengan berlagak sebagai korban, Ahok memosisikan dirinya sebagai pihak terzalimi akibat kepentingan politik tertentu. Ahok berusaha mengaduk-aduk alam bawah sadar masyarakat bahwa ia hanyalah korban dari konspirasi politik yang mengerikan.

Tujuan utama strategi playing victim adalah untuk memengaruhi persepsi publik dengan menyasar emosi dan perasaan untuk mengubah mindset seseorang, bukan logika ataupun sisi rasionalitas masyarakat.

Pada titik inilah menjadi penting membaca Ahok dalam konteks yang lebih kompleks. Bagaimanapun, Ahok merupakan politikus yang sudah malang melintang di jagad politik Tanah Air. Ia mantan bupati Belitung, anggota DPR, dan sekarang menjadi orang nomor   satu di DKI Jakarta. Nyaris tak ada satu pun polahnya yang bebas nilai. Setiap ucapan   dan tindakannya penuh dengan artikulasi dan pesan politik yang tak bisa dibaca secara linear.

Adi Prayitno
Dosen Politik UIN Jakarta dan Peneliti The Political Literacy Institute

http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/16/12/01/ohhso620-setelah-ahok-tersangka

Senin, 21 November 2016

Gowes Malam bareng Sepeda Sehat Uin Jakarta

   Gowes malam adalah salah satu kegiatan sepeda sehat uin Jakarta, kegiatan ini biasanya kita agendakan di malam-malam wekeed seperti hari sabtu dan minggu, selain menikmati keindahan malam di kota acara-acara seperti ini iyalah untuk menghangatkan kebersamaan teman-teman sepeda sehat Uin.

   Namun akhir-akhir ini kegiatan rutinan gowes malam sudah jarang di agendakan dikerenakan beberapa sebab salah satunya kurangnya minat anak-anak uin dalam memberdayakan bersepeda selain itu juga kesibukan para teman-teman KSSU sehingga terjadi ke fakuman yang berkepanjagan.

  Padahal bila saya amati betul komunitas sepeda sehat Uin ini sudah melahirkan usaha atau jasa yang populer dengan nama pondok sepeda dimana pondok sepeda adalah temapt penyewaan sepeda terbesar yang ada di ciputat Tangerang Selatan.

   Namun semangat teman-teman masih aja kendor kaya karet, padahal para senior komunitas sepeda sehat Uin ini selalu mengigatkan bahawasaannya komunitas ini dibagun dengan landasan kekeluargaan yang akrab solid dan saling bahu membahu atar aggota.

 Bersambung...



 

 

Selasa, 15 November 2016

Jalur Sepeda BKT (Banjir Kanal Timur)

    Hallo Para bikekers kali ini saya ingin bercerita tentang banjir kanal timur atau lebih sering dikenal dengan singkatan BKT. di Hari wekeed saya sempatkan untuk bermain menjelajah jalur BKT full bersama kang Lutfi, menggunkan sepeda dari ciputat Uin Jakarta samapi Ujung BKT, saya rasa jalur BKT ini adalah jalur sepeda terpanjang yang pernah saya lalui.
   Untuk para penghobi sepeda saya rasa harus mencoba jalur ini, karna jalur ini asli jalur sepeda, istilah anak sepeda itu BIKE TO WORK hehe berangkat kerja mengunkan sepeda. 
   Tapi sayang seribu kali sayang jalur sepeda di BKT ini belum berfungsi dengan semestinya karena jalur ini dari jembatan satu ke jembatan yang lain diportal selalu, dikarenakan para penguna sepeda motor sering masuk menerobos jalur sepeda dengan beringas tanpa takut itu adalah sebuah pelangaran, yang semoga harapan kita negara Indonesia bisa menghargai hukum tidak melangar yang bukan haknya penguna sepeda juga mempunyai hak terhadap jalan buka hanya kendaraan bermotor saja.

Sabtu, 12 November 2016

Sepeda Pertama Ku

      Hehe aku jadi tertawa sendiri ketika berbicara sepeda atau ingin menuliskan cerita tentang sepeda pertamaku di Jakarta, mungkin pertama yang ingin saya  tulis adalah kemiskinan. Ketika pertama kalinya menginjakan kaki di Jakarta, harta yang saya punya dan kendaraan andalan adalah sepeda, itulaha harta termewah  yang ku punya dan selalu aku gunakan baik ke Kampus maupun ke tempat kerja dan bertemu dengan teman-teman, aku terkadang bangga sendri dengan diri bahkan terkadang terlalu pe de walaupun mengunkan sepeda butut tak terawat itu padahal sekarang statusku adalah Mahasiswa Jakarta. wkwk
       Kembali ke sepeda pertamaku, seperti yang saya ucapkan diatas kemiskinanlah yang membuat saya bersepeda, yang memperkenalkan saya bersepeda adalah kemiskinan, itulah angurah yang harus saya syukuri, meskipun kemiskinan melanda diriku tapi sang sepeda pertamaku selalu mengisi hari-hari ku dengan riang dan bahagia bahkan teman-teman ku bertambah sedikit demi sedikit baik di kampus maupun di luar kampus. 

    Nahh ini dia foto sepeda pertamaku bisa dilihat betapa jeleknya sepeda pertamaku, usang, karatan dan terlihat tidak terurus sama sekali memang sepeda pertamaku ini aku dapatkan dengan Cuma-Cuma alias gratis…!!! Jadi wajar saja bila keadanya seperti itu, seperti lagunya Sheilla on7 harus lapang dada, , ,hehe...

Bersambung...

Rabu, 09 November 2016

Gowes Demo 04 November 2016

Tanggal 4 November 2016 adalah demo besar-besar umat Islam Indonesia tentang dugaan Penistaan agama oleh saudara Ahok.
    Momen hangat seperti ini tidak akan saya lewatkan untuk melihat saudara-saudara, seiman seagama setanah air dan sebangsa. Ini adalah pembelajaran yang sangat berharga serta luar biasa bagi saya pribadi selama tinggal di Jakarta baru kali ini ada demo besar-besaran suatu umat/ormas dengan mengunakan pakaian serba putih serta mengatas namakan Agama. para pendomo ini menuntut keadilah hukum terhadap saudara Ahok yang di anggap telah melakukan penistaan terhadap kitab suci al-Quar'an yakni kitab suci umat Islam.
      Itulah cerita sederhana saya yang sangat singkat sekali, namun saya ingin sedikit menceritakan kenapa ikut andil turun ke Jalan pada waktu itu, ya saya hanya anak muda yang gemar mengunaka kedaraan sepeda, malam itu saya dan 2 teman saya, yakni Riza dan Imam mempunyai inisiatif "yuk gowes malam" ayokkk,,, terjadilah interaksi yang sangat biasa dan tidak banyak omong kami bertiga pun bertemu lalu saling berjabat tangan sapa-menyapa dan berdoa sebelum  mengayuhkan sepeda ke Jakarta Pusat.
      Lalu kami pun pergi, mengayuh sepeda dengan santai ya degan niat ingin melihat para pendomo dimalam hari yang penuh gejolak hati sang masyarakat, gundah entahlah apa itu kami pun merasakan serunya turun kejalan mengunakan sepeda sambil mengambil foto dan beberapa vidio untuk di abadikan serta untuk bahan diskusi kami.
      Karena pemilihan bakal calon Gubenur Jakarta ini bila kita simak berita-beritanya sangat asik sekali baik isu agamanya dan isu politiknya, tentu hal itu menjadi perhatian masyarakat baik masyarakat bawah, menegah dan atas tidak lupa para kaum-kaum muda pun begitu ramai membicarakan pilgub Dki 1 ini, kita ambil hikmahnya saja.

ya hanya itu saja yang bisa saya tulis di blog ini, maaf kurang bagus.